Slide background
Home
Kamis, 23 Juni 2016 22:48
Setelah melantunkan dzikir-dzikir thariqah bersama jamaah pada pengajian rutin Jum'at Kliwon (19 Ramadhan 1437/23 Juni 2016) di Gedung Kanzus Sholawat, Maulana Habib Luthfi bin Yahya menguraikan Bab Yakin dalam kitab Jami' Ushul al-Auliya'. Yakin yang pertama adalah terhadap syariat Allah. Allah Swt. menghalalkan sesuatu, kita yakin untuk menghalalkannya. Yang telah diharamkan, kita harus berani menyatakan itu haram. Didasari dengan iman dan keyakinan. Yakin itu akan memunculkan iman. Masuk akal atau tidak kita akan meyakini apa-apa yang tercantum dalam kitab Allah dan sunnah Baginda Nabi Saw.
 
Yakin yang kedua adalah terhadap ubudiyah dan muamalah, seperti di dalam dunia tasawuf dan thariqah. Keyakinan di sini jelas terhadap Allah Swt. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.:
 
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
 
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan diberinya rizki yang tak disangka-sangka." (QS. ath-Thalaq ayat 2-3).
 
Keyakinannya langsung terhadap Allah Swt. Tapi terkadang kita membutuhkan bukti untuk bisa yakin. Maka dalam setiap shalat fardhu 5 waktu, shalat malamnya, shalat Dhuha dan ibadah lainnya terkadang timbul pertanyaan mengapa Allah masih memberikan kesulitan? Padahal kita yakin bahwa siapa yang bertakwa niscaya akan diberi kemudahan dan diberikan rizki yang tak disangka-sangka. Secara teori memang gampang.
 
Tapi untuk bisa meyakinkan itu tidak mudah tanpa didasari ma'rifah kepada Allah Swt. Secara keimanan kita meyakini firman Allah Swt., namun sebagai orang awam kita selalu inginnya mengejar dan mengejar. Tapi apabila kita yakin dengan didasari ma'rifah kepada Allah Swt., pasti akan berkembang, tidak langsung menyalahkan firman Allah Swt. di atas.
 
Untuk meningkatkan "man yattaqillah" itu tidak serta-merta. Contohnya orang sakit, merasakan bagaimana kita sendiri atau melihat orang lain sakit, hatinya terus khawatir dan khawatir. Ada yang memelihara kekhawatirannya tidak kembali kepada Allah, dan adapula yang dikembalikan kepada Allah. Kalau tidak kembali kepada Allah Swt., itu ngawur dan semrawut, kemana-kemana akan merasakan kebingungan.
 
Adapun orang yang memiliki khawatir kepada Allah dan hatinya tetap terpaut kepada Allah, dia akan berikhtiar "liziyadah ath-tha'ah" (untuk menambah ketaatannya kepada Allah Swt.). Dan dia yakin, "Pasti Allah akan memberikan kesembuhan." Dia mendahulukan keyakinannya yang didasari ma'rifah dan berhusnudzan kepada Allah Swt. Dengan rasa khawatirnya yang demikian dia akan semakin semangat dalam beribadah dan berintrospeksi diri. Dari keyakinan seperti itulah yang akan memunculkan sifat husnudzan (baik sangka) pada Allah Swt.
 
Ada seseorang yang sangat yakin dan mantap atas firman Allah Swt. dalam ayat:
 
 وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
 
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. ath-Thalaq ayat 3).
 
Orang tersebut sangat kesulitan mencari rizki di negaranya sendiri. Sehingga suatu waktu ia bertekad berhijrah keluar kota sebagai bentuk ikhtiar untuk memperbaiki rizki pada diri dan keluarganya. Maka dangan tawakkal kepada Allah Swt. dan memasrahkan diri dan keluarganya kepadaNya, dia segera izin kepada istrinya. Hal yang seperti itu memang disunnahkan untuk orang yang mengalami kesulitan dalam usaha di negerinya.
 
Sang istri yang tengah hamil tua itu pun lalu bertanya, "Mas, lalu bagaimana dengan bayi kita yang sebentar lagi akan lahir?"
 
"Urusan anak sudah saya pasrahkan kepada Allah Swt." Jawab sang suami yang kemudian berangkat berhijrah ke negeri orang lain.
 
Ternyata Allah memberikan kemudahan kepadanya. Selang beberapa saat, maka dia pun pulang dengan rizki yang sangat melimpah, hingga puluhan kafilah dari negeri jiran yang harus membawakan barang-barang miliknya. Tapi ketika dia pulang ke rumah dan hendak menemui sang istri tercinta beserta anaknya, dengan hati gembira dan rizki di tangannya, ternyata mereka telah tiada dan meninggal dunia. Hanya sambutan tetesan air mata sang ibu dari istrinya saat menjemput kedatangannya. Lalu diapun segera pergi ke pusara sang istri.
 
Tapi anehnya setiap kali dia berziarah, di sana selalu mendengar suara tangisan bayi dari kuburnya. Suaranya terus didengar olehnya, hingga didengar pula oleh semua orang yang berada di sekitar makam tersebut.
 
Hingga akhirnya datanglah Syaikh Malik bin Dinar Ra., mengucapkan salam dan bertanya kepadanya, "Ya Abdullah, apa sih keistimewaan kalian sampai-sampai Rasulullah mengutusku untuk datang ke tempatmu? Tiga kali Nabi Saw. datang kepadaku, beliau menitipkan salam untukmu wahai Abdullah bin Basyir."
 
Dijawab, "Kiai, saya tidak memiliki amal apapun selain shalat 5 waktu." Setiap ditanya dia tetap tidak mengakui karena tidak merasa memiliki amal selain shalat 5 waktu.
 
Setelah menyampaikan salam dari Rasulullah Saw. untuk Abdullah bin Basyir, Syaikh Malik bin Dinar lalu melanjutkan amanat yang kedua untuk memerintahkan agar segera mengambil anaknya yang masih hidup di dalam kubur.
 
Maka diapun segera pergi ke makam sang istri lalu menggalinya. Dan ternyata benar, sang bayi masih hidup. Bahkan bayi itu sedang menyusu pada sang ibu yang telah mati, namun air susunya masih segar laksana menyusu kepada orang yang masih hidup. Ketika hendak diambil bayi itu bahkan seakan tidak mau berpisah dari ibunya.
 
Lalu Syaikh Malik bin Dinar berucap, "Inilah bukti keyakinan atas firman Allah Swt.:
 
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
 
"Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. ath-Thalaq ayat 3)."
 
Jadi ikhtiar kita itu untuk menambah dan memperkuat keyakinan, bukan untuk keyakinan. Semakin kuat keyakinan kita maka akan memperkokoh keimanan kita. Keimanan yang kokoh dan didasari dengan huznudzan kepada Allah Swt. Itulah kunci dari segala kesulitan kita. Wallahu a'lam. (*Ibj)
Jumat, 17 Juni 2016 07:31

Malam itu (Kamis, 16/06/2016) dibacakan beberapa hadits dalam kitab Fath al-Bari pada Kitab (bab) ash-Shalat dalam Pengajian Ramadhan di kediaman Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Satu yang ditugasi untuk membacakan kitab tersebut, sedang para peserta lainnya menyimak dengan seksama dan sesekali saling tukar argumen.

Kamis, 09 Juni 2016 13:09

Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Pengajian Ramadhan Tafsir al-Jalalain (Selasa, 7/6/2016), mengingatkan tentang pentingnya memahami ilmu tauhid sebagai dasar mengkaji tafsir al-Quran. Salah satu faktor kelemahan pesantren biasanya terletak pada minimnya bahasan ilmu tauhid, masih terbatas hanya pada sifat wajib, jaiz dan mustahil, sifat-sifat yang jumlahnya 50 (Aqaid al-Khamsin). Padahal kita dihadapkan pada tafsiran-tafsiran al-Quran yang lebih condong dzahiriyah (tekstualis) dari aliran selain Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kamis, 09 Juni 2016 07:21

Maulana Habib Luthfi bin Yahya belajar tafsir al-Quran menghabiskan waktu selama 11 tahun. Habib Luthfi mengingatkan dalam pembukaan pengajian Ramadhan di kediamannya (Senin, 6/6/2016), bahwa al-Quran memiliki makna dzahir dan bathin. Tidak mudah menafsiri al-Quran, harus menguasai seperangkat ilmunya semisal ilmu alat (nahwu-sharaf), balaghah, manthiq, badi’ dan bayan.

Kamis, 04 Februari 2016 02:17

Di tengah problematika yang mencekam Bangsa Indonesia akhir-akhir ini, Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo, melalui MENKOPOLHUKAM Luhut Binsar Panjaitan, sowan ke kediaman Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya di Pekalongan untuk meminta saran.

Facebook

Twitter

Pengunjung

Hari ini 189

Kemarin 438

Minggu 627

Bulan 26556

Total 242044

Currently are 9 guests and no members online