Manaqib Singkat Habib Hasyim bin Umar bin Yahya Pekalongan

  • Update: 14/01/2016

Habib Hasyim merintis dakwah dan mendirikan pesantren dan madrasah addiniyah pertama di Kota Pekalongan. Pondok pesantren tersebut didirikan untuk masyarakat umum yang santrinya tidak hanya dari kalangan habaib. Habib Hasyim dan para ulama’ merintis dakwah melalui Maulid Nabi sehingga masyarakat lebih jauh mengenal dan mengerti Islam, Al Qur’an dan lain sebagainya dalam syariatillah (syariat Allah) dan mengenal pembawa Al-Qur’an yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW. Maulid tersebut melahirkan pecinta-pecinta atau muhibbin, cinta kepada Rasul dan juga mencintai kepada Allah. Seseorang yang tumbuh kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan cinta kepada Al-Qur’an dan akan lebih berpegang teguh kepada Kitabullah (Kitab Allah) dan Sunnah Rasul.

 

Maulid yang diselenggarakan oleh Habib Hasyim bertempat di Masjid Nur Kota Pekalongan. Habib Hasyim dalam mengadakan maulid tidak memungut bantuan dari manapun karena kekayaan Habib Hasyim dicurahkan untuk dunia pendidikan dan dakwah. Penghasilan Habib Hasyim berupa pertanian yang cukup luas di Indramayu tempat kelahirannya, disamping bisnis yang lainnya. Habib Hasyim wafat dengan meninggalkan masjid, pondok pesantren dan madrasahnya beserta kitab-kitab beberapa lemari dan dua jubahnya. Satu jubah untuk sholat bergantian dan satunya yang dipakai waktu meninggal. Pakaian Habib Hasyim yang baru banyak diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu.

Habib Hasyim mempunyai cara mendidik para putra putrinya dan juga santrinya dengan tidak memberi umpan atau ikan tapi selalu memberi kailnya sehingga murid dan putra putrinya militan.

Habib Hasyim sebelum membangun dan membawa pesantren, tidak pernah berhenti berdakwah masuk dari satu desa ke desa lainnya. Beberapa mushola dibangun oleh Habib Hasyim di Pekalongan. Semenjak muda harta, benda, dan tenaga Habib Hasyim dicurahkan untuk kepentingan agama atau Allah.

Perkembangan Maulid dari tahun itulah mulai ramai di Kota Pekalongan dan semakin pesat sehingga tidak terlepas dari kecurigaan penjajah. Para penjajah memandang maulid tersebut tidak bertendensi politik. Habib Hasyim khususnya pada waktu itu sangat besar pengaruhnya karena Habib Hasyim menjadi rujukan para ulama di jaman itu diantaranya Mbah Hasyim Asy’ari dan Kyai Muh Amir (Ki mir) Simbang dan tokoh-tokoh lainnya yang terkenal ke-allamah-annya (sangat alim) sehingga pihak penjajah sangat hati-hati sekali dalam menghadapinya menakutinya. Bahkan kyai Amir mengatakan bahwa Habib Hasyim itu ‘allamatud dunya fii zamaanih. wallahu a'lam

 

Share

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Kontak

Kanzus Sholawat, Jl. Dr. Wahidin No.70, Noyontaan, Pekalongan, Jawa Tengah 51129, Indonesia

+62 856 415 99 305

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…